Jumat, 23 November 2012

Jalan Jembatan Merah Memang Ada


Jalan Jembatan Merah Memang Ada
Oleh: Chandra Metalrock
Semua orang masih sibuk menggeluti kegiatan mereka,  ada yang sibuk  memelototi kotak bercahaya berisi ragam informasi, ada yang sibuk memetik alat musik berdawai enam, ada yang membolak-balikan bola kecil berwarna orange dengan raket padat tanpa senar.
Hari ini hari keempat setelah kutemui sesosok yang indah dan mampu memalingkan haluan hatiku, ketika ku lihat segerombol air yang turun dari angkasa dan menggenang di paving block merah, aku teringat hari itu. Seperti biasa sebatang putih berasap selalu terjepit diantara telunjuk dan jari tengah tangan kiriku, meski kadang kuletakkan di asbak kecil berpola kura-kura yang setia menemani. suara jeritan dan geraman penyanyi kesukaan ku pun senantiasa terngiang seakan memberiku energi. raungan distorsi gitar, hentakan pedal ganda dengan tempo seperti amunisi perang, tak luput dari pendengaranku.
Beberapa hari sebelum hari itu, ketika ku putarkan roler mouse ,aku melihat sekilas rentetan tulisan yang dia tulis di sebuah jejaring sosial yang hampir semua tampilannya di dominasi biru. Aku sama sekali tidak mengenalnya. Entah kenapa ketika ku lihat gambar dirinya , aku merasa seakan tertampar dengan keras, dan bisikan itu muncul , ayo bangkit pecundang, jangan terlalu lama kau larut dalam surga metaforamu, Aku pun sejenak bengong dan memalingkan wajah kesebelah kiriku. Ku pikir Aku butuh untaian petuah kehidupan,  dan ku temukan orang yang tepat, seseorang yang usianya 6 tahun di atasku dan telah ku anggap kakakku sendiri yang tengah asyik memelototi layar persegi panjang, dengan jemari mulusnya yang menginjak-injak keyboard.
Dan untuk pertama kali, aku berani mengeksplorasi sisi-sisi kehidupanku pada seorang hawa dewasa. Ku geserkan kursi yang ku duduki agar lebih dekat, dan ku mulai menyerbunya dengan segunung pertanyaan yang sebetulnya aku malu sekali. Tapi perlahan aku mulai merasa nyaman dengan setiap untaian jawaban yang dia ucapkan . dan seakan aku merasa di lahirkan kembali. Dengan perasaan tenang ku kembali memutarkan roler mouseku . tak lama setelah beberapa komentar yang ku lontarkan pada ungkapan yang dia tulis di jejaring birunya, aku berniat memintainya nomor ponsel, dan akhirnya kudapatkan nomor itu. Dengan rasa senang ku genggam ponsel hitam second, yang ku jarah dari rekan seperjuanganku dengan harga murah, dan mulai mengiriminya pesan. Haiii. . . , itulah isi pesan pertamaku , dia membalasnya dan akhirnya ku teruskan dengan rasa waswas.
Ku tambahkan lagi beberapa lagu cadas ke daftar pemutar musikku, karena kebisingan membuatku lebih kreatif untuk melanjutkan tukar pesan ku bersamanya .  kata-kata yang sedikit intelek tak lupa ku sisipkan dalam setiap pesan yang ku kirim, dengan maksud aku ingin terkesan wahh . Dan dengan ragu , kita bisa ketemu gak besok ?? . hawa dingin dari AC terus menyayat tulang-tulangku, tapi aku tak mempedulikannya. Tapi akhirnya , besokk ?? owh boleh , ,emang kmu tw rmah aq ??. rasa senang bercampur bingung seakan menjadi jus berkafein yang membuatku tak bisa tidur. Ku nyalakan kembali sebatang putih berasap dengan niatku untuk lebih tenang. Dan dengan ambisi tingkat dewa aku membalas , akh, sbutin aja almat.a , nnti aku cri sampe ktmu . .hehe !!
Pagi cerah  di hari libur , dengan obrolan segerombol burung gereja di halaman rumah yang aku sama sekali tak mengerti maksud mereka. Aku bertanya pada temanku tentang alamat yang ku dapat di pesan tadi malam, tapi dia hanya semakin membingungkan. Ku Tanya tukang ojeg, dia menjawab tidak tahu, kutanya tukang angkot , dia hanya tersenyum dan kembali mengejar setorannya. “Frustasi”. .itulah yang aku rasakan kala itu. Aku pun kembali menyalakan balok pintar yang sudah terhubung ke layar persegi panjang bercahaya.
Tak pernah terpikir olehku sebelumnya, ternyata ada sebuah aplikasi di komputerku yang lebih pintar dari pada seorang dukun, dimana kita bisa jelas melihat tempat-tempat yang kita maksud. Tak lama langsung saja ku cari tempat yang dia maksud, dan ku buat sebuah pola di kertas kecil yang sengaja ku sobek. Aku seakan mendapat cahaya hangat yang memanasi raga kurusku. Langsung saja ku bersihkan badanku dan bersiap-siap dengan rasa senang yang menggunung. Baju warna hitam dengan balutan gambar mengerikan, dan celana pendek berpola tentara langsung ku tempelkan di badanku. Saat ku melirik layar ponselku, ku lihat sebuah pesan yang masih tersegel dan langsung ku buka. Kmu lg dmna? , gmna jadi gk ?? awas lupa.. jln jembatan merah :) .
Menjelang tengah hari dengan mentari yang sedikit marah dan berniat menggoyah asaku, aku pun bergegas pergi. Sesekali ku alihkan pandangan ke spion kananku, tapi yang kulihat hanyalah wajah indah yang tengah tersenyum manis, seakan-akan menyuruhku untuk melaju lebih cepat dari cahaya. Tak ada lagi bus antar kota, tak ada lagi angkot, tak ada lagi truk gandeng yang membentang ,  yang ada hanya perasaan rindu yang menggebu. Ku langkahi setiap roda yang melaju di depanku tanpa ku ingat apa itu mati. Aku tak peduli dengan matahari yang terus menghujat lapisan kulitku .
Pola yang ku gambar pada sesobek kertas kini telah ku telan, aku berhenti sejenak dan berpikir , apakah jalan itu memang ada, ataukah hanya ilusi pendusta. Aku kembali menodong setiap kepala dengan pertanyaan yang masih sama. Tapi kepala-kepala itu hanya membisu seakan tak mengerti dengan apa yang ku inginkan . aku hanya butuh telunjuk mereka, aku butuh arah. Ku pacu kembali roda duaku dengan pelan namun penuh emosi , haruskah aku menyerah ??  kurasa tidak . saat aku berada di jalan lurus yang di hiasi pohon-pohon di kedua sisinya , ku putuskan tuk kembali berhenti karena tenggorokanku telah mulai mengeras , dan sekejap aku sadar bahwa aku di latar yang berbeda sekarang , andai saja ku pakai bahasa mereka atau setidaknya bahasa pemersatu, mungkin mereka tahu apa yang kumaksud , ambisi sungguh membutakan nuraniku. Ku lepaskan helmku dan akhirnya, tepat di atas kepalku, kulihat plang hijau bertuliskan  “Jln Jembatan Merah”.
Emosi yang menjilati seakan lenyap , persepsi nista seakan berganti haluan , kembali ku ambil ponsel hitam di dalam kantong celanaku , ,aq udh di jln jembatan merah, kmu dmna ??. . ,iya aku ke situ sekarang. . .