Minggu, 01 Desember 2013

Tumpahan isi Otak seorang Gitaris sekaligus Vokalis band Death Metal



Tulisan ini hanya gurauan yang berisi tumpahan isi otak yang tidak penting tapi saya ingin menulisnya . 

    Kebetulan saya adalah manusia yang sejak bayi hidup di schene serba kekurangan. Selalu ada saja yang saya keluhkan dalam hidup ini, tapi mungkin itu bersifat umum dan manusiawi karena semua manusia tak akan pernah merasa cukup. Selama oksigen masih berlalu lalang di tenggorokannya.

   Tapi soal hidup, saya tidak pernah ambil pusing. Karena yang maha kuasa tak pernah memberikan keburukan pada mahluk-mahluk ciptaanNya. Meski terkadng saya  menggerutu dengan suara rendah dalam hati tentunya. Sekarang umur saya sudah kepala dua, sebuah notasi nada umur yang kata orang-orang merupakan fase menuju kedewasaan. Tapi saya ngga mau pusing juga, biarkanlah semua berjalan senatural mungkin.

   Langsung keinti aja, katakanlah saya ini anak kemarin sore yang mengenal music cadas/metal/underground. Karena saya mengenal music ini pada saat duduk dibangku SMA kelas 1, dan saya rasakan ada chemistry yang bersaling-silang dengan latar kehidupan saya (kekurangan). Saya seperti menemukan media baru untuk menggerutu secara lantang tentang semua gejolak yang ada di otak dan jiwa saya. Sebuah ketenangan tercipta kala mendengar teriakkan yang memekik, riff gitar yang meraung liar, dan tensi detakan dari double pedal mereka para musisi underground. Dari sinilah saya berambisi menjadi seperti mereka, ambisi yang sampai kini dan mungkin sampai kapan pun akan tetap berkobar.


METAL, itulah sebuah genre yang kata orang-orang erat dengan pemberontakan, rusuh, tak bermoral , dan tak bertuhan. Tapi “what the hell” lah ,, saya tidak ambil pusing lagi. Karena itu semua kembali ke tiap pemikiran sebuah individu. lagi pula saya hanya menumpahkan isi otak dan semua gerutuan , itu saja. Bagi saya metal bukan hanya sebuah genre, tapi sebuah paham kehidupan yang mendidik manusia untuk tidak selalu mengeluh, kebebasan berekspresi, dan menjadi pekerja keras dalam menjalani hidup (tidak berleha-leha dan berpikiran keras) . juga mengajarkan tentang kebersamaan , sifat welcome pada semua karakter, dan tentang keteguhan pada sebuah gagasan/pendirian .


Menjadi pengamat, penikmat, dan pelaku. Itulah impian saya sejak saya berkenalan dengan genre ini. Media intrumen yang saya geluti sejak itu adalah kayu sexy berdawai 6. GITAR, itulah senjata yang saya pakai untuk meluapkan semua emosi, feeling, dan hiruk-pikuk hasil terjemahan mata dan telinga saya . Saya selalu bersyukur , yang maha kuasa memberikan otak kepada mahluk yang bernama manusia. Dan kebetulan otak yang saya genggam adalah otak yang lebih dari yang lain. Alhmdulillah ,,, masa-masa Sekolah Dasar hingga Menengah Atas , beberapa piagam sanjungan/apresiasi dalam hal akademis berhasil saya kumpulkan dalam sebuah map usang yang hanya bisa menghibur saya tatkala saya melihat dan membayangkan masa itu.



      Indah sekali, yah benar-benar indah. Tapi potensi itu kandas dipertengahan bangku Menengah Atas ketika sebuah system menghancurkannya. Sebuah System yang mempertuhankan Lembaran kertas bertuliskan angka yang bisa mengukur keabsahan dan keabsurdan. Lembaran yang bisa membuat yang salah jadi benar, membuat yang akhir menjadi awal .Lembaran yang dicari-cari manusia untuk mempertahankan hidupnya.
    Anjing !!.. kenapa benda itu harus ada didunia ini. Sungguh Benda yang membutakan mata luar dan dalam manusia . mungkin itulah awal buyarnya semangat saya, mengendurkan serangan dengan gerutuan rendah namun kuat tentang makna ke-abnormalan sebuah system. Tapi inilah hidup , selalu ada skenario indah dalam tiap novel yang dituliskan oleh yang maha kuasa. Saya hanya bisa berakting dan mendalami karakter dalam semua sesi dan adegan yang saya perankan dengan penuh rasa syukur dan semangat .

    Meskipun sekarang, saya tidak duduk di bangku chitose dengan seorang pahlawan didepan papan tulis. Tapi saya tetap bangga dan bersyukur , sekarang saya masih bisa menyambung hidup dengan mendedikasikan diri disebuah tempat bimbingan belajar, meskipun jadi organ terbawah . dan yang penting saya masih bisa menjajal studio rentalan untuk sarana berekspresi dan bereksplorasi. Tapi suatu hari saya yakin, dan saya berambisi untuk bisa mencicipi bangku Chitose dihiasi beberapa SKS yang menantang. Yeah… mungkin itulah ambisi lain saya selain menjadi pengamat, penikmat, dan pelaku di schene music yang saya usung sekarang.

    Menjadi gitaris sekaligus vokalis band metal, itu yang saya coba dan saya seriusi sekarang. Terinspirasi oleh musisi-musisi metal seperti Matthew Kiichi Heafy (TRIVIUM) , Chuck Schuldiner ( DEATH), John Gallagher (DYING FETUS), Sofyan Hadi (DEATH VOMIT), dan Adi Wibowo (DEAD VERTICAL) . mereka bisa mengerjakan dua aktivitas bersamaan, memainkan instumen music (gitar) dan benyanyi dengan suara parau. Dan kini saya sedang mencoba merealisasi project brutal bersama dua teman saya dengan nama band OBRIGADO. Dengan line-up Deniswara (Drum) , Agus groin (Bass+Vocal), dan  Chandra/Saya (Gitar+Vokal). Sang drummer merupakan rekan kerja sekaligus sahabat saya yang selalu mensupport saya, memberikan saya kebebasan berekspresi dengan dentuman double pedalnya, dan Agus sang bassis , saya mengenal dia lewat social media . sewaktu saya hijrah dari kampung kelahiran saya Garut-Jawa Barat ke tempat sekarang Kuningan-Jawa Barat.

    Kami bertiga, kami OBRIGADO , tiga karakter manusia dengan kobaran jiwa dan tujuan yang searah . Death Metal adalah genre kami , “this is our music, and we will die for this” . saya tidak begitu mengharapkan meteri dari music , saya hanya ingin mencurahkan tumpahan isi otak saya, apa yang saya lihat dan saya dengar, juga aspirasi saya terhadap dunia lewat distorsi gahar, lirik kasar  dan suara parau.





Terima kasih telah bersedia membaca tulisan tidak penting ini. 

  

Kamis, 24 Oktober 2013

PARADIGMA SCHENE METAL DI INDONESIA MASA KINI .

Dunia Metal UG lokal di Indonesia saat ini tidak layak lagi disebut sebagai KEBANGKITAN, namun yang saat ini sedang terjadi adalah KEJAYAAN. Hanya tersisa 2 tugas lagi bagi Metalhead dan Media Metal UG Indonesia, adalah "How to maintain it and make the Glorious of eternal freedom for the Metal UG Indonesia..." Bagaimana kita mempertahankannya dan membuat Metal UG Indonesia menjadi MERDEKA...!!!

Ironisitas dibalik Kenyataan :

Penulis merasa masih terlalu minim pengetahuannya untuk mengutarakan dunia Metal khususnya Indonesia. Namun disini Penulis mencoba untuk meletakkan kapasitas diri sebagai Pion yg berada di antara pasukan Metal UG Indonesia.

Sebuah paradigma yang gag pernah tuntas dibahas adalah tentang keberadaan Scene Metal di negeri kita ini yang menjadi anak tiri dalam perindustrian Musik Indonesia. Alhamdulillah, meski masih tersisa serpihan2 kecil tentang paradigma tersebut, Metal UG Indonesia saat ini telah MELESAT bak anak panah yang mampu membuat setiap orang terbelalak dan bertanya2 "Musik apa sih itu? Gag jelas..." Haha, ya, bagi mereka itu adalah sebuah pertanyaan yg lazim. Namun bagi Metalhead, itu adalah sebuah kemajuan. Kenapa? Setidaknya masyarakat awam sudah mengetahui identitas musik Metal UG kita yg memang TIDAK JELAS. Ketidak jelasan itu lah yang pada akhrnya membuat mereka penasaran dan sendirinya ingin mempelajari lebih dalam tentang Metal UG, tentu saja tidak semudah itu mereka mempelajarinya. Ya, itulah yang penulis sebut sebagai EDUKASI ALAMI... Sebuah pembelajaran tanpa Guru. Urusan mereka suka tidak suka adalah urusan belakangan, setidaknya dengan Edukasi tersebut, mereka yg awam jadi tau tentang musik Metal UG. Gag perlu dihitung berapa orang yg mengajukan pertanyaan seperti diatas. Namun cukup diketahui bahwa pada akhirnya nanti, Berjuta-juta orang akan lebih tau tentang Metal UG Indonesia.

Mempelajari dan mengenal Musik Metal UG, diibaratkan duduk dibangku kuliah untuk mendapatkan gelar S2. Tidak hanya mendengar, namun semua indra tubuh bekerja, mencoba menyelaraskan hati dengan tindakan. Berbeda dengan mengenal Musik Genre lain seperti Pop dan Musik Komersil lainnya, Hanya mendengar, mereka langsung mengerti dan suka. Itulah mengapa penulis mengambil kesimpulan bahwa dibalik "KETIDAK JELAS" nya dalam bermusik, ada nilai Estetika mahal dalam mengenal Musik Metal UG yg gag didapatkan di genre musik lain. Mungkin Musik Metal UG hanya bisa diselaraskan dengan musik Symphony Bach, Bethoveen atau sekelas lainnya Hehe...

Bila saatnya kita bicara tentang kerasnya dunia musik Metal UG, penulis rasa bukan hanya keras dalam ber-Performent. Tapi juga keras dalam setiap pagelaran event2 nya yg terkadang berakhir dengan kekerasan di luar stage (Rusuh). Namun pernahkah anda melihat atau mendengar event musik genre lain, Pop, atau musik komersil lainnya yg tidak pernah tidak rusuh di luar stagenya??? Ya...jadi secara median tidak ada perbedaan antara Metal UG dengan musik komersil lainnya yg didalam Event akan ada kekerasan / kerusuhan. Itu ibarat bumbu, sebuah resiko, sebuah sebab akibat. Dan pada akhirnya menjadi sebuah tanggungjawab bukan hanya dari sisi penyelenggara, namun juga dari penggemar. Untuk itu SALAH BESAR apabila musik Metal UG identik dengan kekerasan / kerusuhan, karena musik lain pun demikian sama adanya. Namun sadarkah anda bahwa tingkat SOLIDARITAS kaum Metal UG Indonesia jauh diatas rata-rata...??? Bila anda tidak percaya, berjuanglah untuk mengenal Metal UG Indonesia.

Sebuah impian tertinggi dalam setiap genre musik adalah menjadi tenar dan dikenal. Jika berbicara hal itu, yg sangat berperan adalah para Ikon2 Industri Musik yg mempunyai kekuatan untuk mewujudkan hal tersebut. Itu bukan merupakan sebuah hal yg munafik. Namun kembali ke EDUKASI para label2 yg berkecimpung didalamnya, dan tentu saja keberanian mereka untuk terjun kedalam dunia musik Metal UG Indonesia. Meskipun saat ini sudah ada, namun masih dibilang sedikit, bahkan minim sekali. Untuk itulah mengapa disebut Metal UG Indonesia belum MERDEKA. Itulah mengapa branded Underground masih tetap melekat di Scene Metal kita. Bagi penulis, label Underground layak dilepas apabila ke-MERDEKA-an Metal Indonesia berhasil di MERDEKA kan oleh para label2 Indonesia secara menyeluruh dan tanpa memilih. Tentu saja ini yang masih menjadi Homework bagi kita.

EDUKASI adalah salah satu cara untuk lebih memasyarakatkan Metal UG di masyarakat Indonesia. Namun yg lebih utama adalah pembukaan hati dari mereka terhadap Musik Metal UG. Ini bukan tugas yg hanya harus dilakukan oleh pion-pion Metal, namun juga menjadi tugas para Media Portal Metal UG entah itu di dunia maya maupun di dunia nyata. Harapan dari adanya Edukasi Metal UG adalah ketika pada satu Stage Besar, 1000 orang penonton terdiri dari 500 penonton penggemar musik komersil (Pop Komersil), dan 500 sisanya adalah penggemar musik Metal UG. Itulah yang namanya ke-ADIL-an dalam musik Indonesia. Bukan memberikan sesuai dengan kapasitasnya, namun memberikan sama rata. Tugas yang berat memang, namun apabila musikus2 dapat melihat sebuat kesempatan besar dibalik Edukasi ini, niscaya semua akan terjadi.

Musik Metal UG kita tidaklah tidak diakui. Tapi cenderung ditakuti. Namun para mesin pencetak uang cepat menanggapi akan hal ini. Mereka sadar dapat memanfaatkan semaksimal selangit tembus untuk mencapai keinginannya semata. Sangat disayangkan apabila elemen2 tertentu mencoba berlomba "Mengangkat" Musik Metal UG Indonesia hanya semata untuk mesin pencetak uang. Padahal secara logika dan kenyataan mereka sangat sangat menyadari bahwa musik Metal UG dapat menjadi kekuatan besar dalam dunia perindustrian musik Indonesia. Yah, dunia luar pun mengakui bahwa Metal UG Indonesia telah menjadi momok menakutkan dalam perkembangan Metal UG Dunia. Bertebaran Musikus2 Metal Indonesia yg telah berhasil menunjukkan kedahsayatannya yg membuat dunia luar bertekuk lutut. Apa lagi yg kurang??? SDM dari Industri Musik Indonesia pastinya...



Benang Merah :

Ternyata tidak ada Benang Merah dalam membahas Musik Metal UG Indonesia. Karena semua telah berjalan sesuai dengan adanya. Musik yang telah maju dan JAYA. Bertebarnya Komunitas2 Metal UG di negeri kita ini, dan begitu banyaknya Media Portal Metal UG yang eksis mengangkat Musik Metal UG. Hanya tinggal bagaimana media2 tersebut bisa berjalan ditengah arus, tidak memihak dan tidak memilih serta sanggup memberikan EDUKASI Metal UG yang benar kepada masyarakat Indonesia. Biarkan masyarakat menilai, tapi yg lebih penting adalah bagaimana masyarakat menyikapi nya.

Kamis, 17 Oktober 2013

OBRIGADO DEATH METAL

l


OBRIGADO adalah band death metal asal kota Kuningan Jawa Barat. kata Obrigado  diambil dari bahasa Portugal yang artinya "terima kasih" .  mungkin agak aneh, namun itu bisa jadi ungkapan rasa syukur mereka terhadap Tuhan dan Kehidupan. .Berdiri pada pertengahan Oktober 2013 , dengan formasi trio yaitu Agus ( bass + vocal ) , Chandra ( Gitar ) , dan Denis abah ( Drum ) . Mengaku terinspirasi band brutal seperti DEATH, SLAYER, DYING VETUS, BEHEMOTH, DEAD VERTICAL, WAKING THE CADAVER dan DEATH VOMIT . Obrigado berencana meluncurkan E.P yang tengah dalam 
proses penggarapan . semoga sukses OBRIGADO...

support indie
  .


Jumat, 23 Agustus 2013

MERCHANDISE BAND LOKAL MAHAL ?? . . NGGA JUGA KOK

KETIKA rilisan sudah tidak bisa lagi jadi sandaran untuk sekadar menggantungan hidup band, maka berbisnis merchandise kemudian jadi pilihan. Lantas orang pun berbondong-bondong memproduksi merchandise band, sehingga bisnis ini tumbuh tak ubahnya cendawan di musim hujan. Fenomena merchandise band mengingatkan kita pada booming distro/clothing beberapa tahun silam.
Tanpa disertai survey yang serius pun kita sudah bisa menyimpulkan bahwa saat ini memproduksi kaos band underground lebih menggiurkan ketimbang membuat kaos distro. Lalu tengoklah pelosok kota kembang, toko-toko yang khusus menjual merchandise band lokal sangat mudah dijumpai dijumpai di mana-mana.
Salah? Tentu saja tidak. Bahkan bagus. Sebab, sebuah bisnis pasti memiliki efek positif langsung terhadap kehidupan. Dan faktanya, bisnis merchandise band lokal yang sekarang tengah marak ternyata mampu menggerakan jentera ekonomi scene. Setidaknya ada ladang mencari uang. Teman kita yang punya duit lebih, memilih jadi vendor. Dan mereka yang hanya punya tenaga, ikut jadi pekerja pada teman yang punya duit. Belum lagi para desainer artwork yang turut kecipratan rejeki. Singkatnya, bisnis merchandise sudah menyulut dapur teman-teman kita tetap ngebul.
Namun, ketika bisnis merchandise sedang hangat-hangatnya, permasalahan ternyata selalu saja ada. Yang paling banyak dikeluhkan adalah mengenai harga merchandise band lokal yang mahal. Ukuran mahal memang relatif, tapi di sini kita memang sedang memakai parameter lokal. Artinya, alat pembanding yang kita pilih bukan produk sejenis dari mancanegara.
Contoh kasus, satu potong kaus distro sekarang rata-rata dibandrol di angka Rp 90.000 — kecuali untuk satu-dua label yang kini sudah ada yang mencapai harga Rp 150 ribu. Kalaupun ditarik level paling tinggi, rata-rata harga kaos distro masih jarang yang dibandrol di atas seratus ribu perak. Tapi, coba tengok harga kaos band metal. Di akhir 2011, harga sepotong t-shirt metal masih dibandrol sekitar Rp 115.000. Memasuki pertengahan 2012, harganya sudah berkisar Rp 120-125 ribu.
Mengenai harga kaos metal yang relatif mahal, teman kita pemilik label Dark Castle, Iyonk, pernah mengalami kejadian lucu. Suatu kali, toko Iyonk yang berada di Plaza Parahyangan didatangi seorang ibu berserta anaknya. Sang anak merengek minta dibelikan t-shirt band death metal. Ketika tahu bandrol kaos yang diinginkan anaknya, ibu tersebut kontan berujar: “Kenapa harganya mahal gini? Padahal kaos di toko bawah harganya Rp 60.000?”
Dengan sabar Iyonk pun menjelaskan kenapa harga kaos yang diinginkan anaknya bisa mencapai angka Rp 120.000. Setelah diberi penjelasan tentang harga artwork, royalti buat band, dan lain-lain, sang ibu rupanya belum juga ngeh dan lebih memilih menampik keinginan anaknya.
Iyonk mengaku dirinya bukan tidak mau menjual sepotong t-shirt band lokal dengan harga lebih murah. Akan tetapi harga yang dipatok memang sebuah keterpaksaan karena Iyonk harus memperhitungkan bermacam aspek produksi, mulai dari membayar artwork, royalti buat band, bahan, sablon, sampai perhitungan share untuk toko jika produk itu dititip-jualkan.
Yups, harga kaos band lokal memang relatif mahal karena merchandiser harus menghitung beberapa aspek produksi. Di sini kita sedang membicarakan sebuah merchandise yang diproduksi secara legal, dan bukannya produk bajakan yang sekarang tidak kalah marak. Sebuah kaos tentu membutuhkan artwork. Harga sebuah artwork sekarang berkisar Rp 500.000. Ini masih tergolong murah, sebab artwork karya desainer tertentu bisa mencapai bandrol jutaan rupiah.
Aspek produksi lainnya adalah royalti buat band. Dari beberapa sumber, meski tidak jadi patokan absolut, royalti untuk sepotong kaos sekarang berada di angka Rp 10-12 ribu. Dan biasanya royalti band harus dibayar di depan.
Dari dua aspek produksi di atas, rasanya wajar jika merchandiser mematok harga sepotong kaos band metal lokal di kisaran angka Rp 120.000. Jika dilihat sekilas dengan memperbandingan dengan produk kaos distro, jelas angka yang relatif mahal. Tapi, harga segitu akan terasa wajar jika kita mengerti latar belakangnya.
Seperti ungkapan Ray dari Horrorjoke Merch, “Kahayang mah saya ge ngajual kaos lima puluh rebu. Tapi da kumaha deui, ongkos produksi memang maksa urang matok bandrol sakitu.”
Sekarang semuanya balik kepada kita sebagai konsumen. Apakah mau memilih produk legal yang harganya sedikit rada nyiwit tapi dijamin halal. Atau memilih produk bajakan yang harganya jauh lebih murah. Woleskeun, beray!

Jumat, 03 Mei 2013

ISTILAH PATUKANGAN DINA BASA SUNDA

Patukangan teh nyaeta anu boga pagawean atawa anu purah migawe hiji pagawean .
Istilah dina bahasa sunda diantarana :

Anjun : tukang nyieun parabot tina taneuh
Amil,lebe : Tukang nuruskeun nu aya patalina jeung Agama di desa
Badaya : Awewe tukang ngigel di karaton atawa di kabupaten
Bujangga : tukang nyieun/ nulis carita
Barangmaen : Tukang jajaluk
Bengkong : Tukang nyunatan
Candoli : tukang ngajaga pabeasan di nu kariaan (biasana awewe)
Dalang : Tukang ngalakonkeun carita wayang
Gending : tukang nyieun parabot tina kuningan
Indung beurang : paraji nu sok ngurus ngajuru jeung ngurus orok
Kabayan : tukang dititah ka dittu da dieu
Kajineman : 1) mandor sakitan, 2) tukang ngajaga jinem (nu dihukum)
Kamasan : tukang nyieun parabot tina emas atawa perak
Kabojengkeng : tukang ngagusur padati
Kulaer : kusir anu tumpakna dina kuda kareta pangagung
Kuncen : tukang ngurus kuburan
Legig : tukang ngasruk dina pamoroan
Lopor : Tukang ngagondeng jeung ngereunkeun kuda
Malim : tukang nalukkeun sasatoan
Masinis : Tukang ngajalankeun lokomotip
Maranggi : tukang nyieun landean jeung sarangka keris
Merebot : tukang nakol bedug
Nayaga : Tukang nabeuh gamelan
Nyarawedi : tukang ngagosok permata


O’ah : Jago Tukang ngagugulukeun teu ecreug
Pakacar : bujang, juru laden
Palatuk : iber anu tumpak kuda saheulaeun pangagung
Paledang : tukang nyieun parabot tina tembaga
Palika : tukang teuleum (ngala lauk)
Pamatang : tukang moro (nu sok ngagunakeun tumbak)
Pamayang : tukang ngala lauk di laut
Panday : tukang nyieun parabot tina beusi
Paneresan : tukang nyadap
Paninggaran : tukang moro
Panyumpit : Tukang nyumpit
Sarati : tukang ngusir gajah

Minggu, 21 April 2013

Relasi Musik Metal dengan Kebudayaan Sunda

Berpakaian hitam bergambar gambar tengkorak, suara garang, rambut gondrong, musik cadas identik dengan musik metal. Tapi bagi yang awam dengan musik metal ini, sesekali sempatkan melihat pertunjukan musik metal. Ada suasana baru yang berbeda dengan kondisi pementasan musik metal jaman dulu.

Pertunjukan musik metal belakangan ini sarat akan budaya dan tradisi Sunda. Mungkin sekitar sepuluh tahun lalu, jika datang ke pertunjukan musik metal dengan memakai pakaian tradisional sunda seperti baju pangsi dan iket akan terlihat aneh, atau mungkin jadi bahan ejekan. Tapi saat ini justru banyak yang memakai gaya tersebut sebagai identitas diri para metalhed.

Musik metal yang cadas dengan tempo cepat dan suara vokalisnya yang mengeram dengan serak, kini ditambah dengan bumbu-bumbu musik sunda seperti tarawangsa atau karinding.

Vokalis Jasad, Mohamad Rohman, atau yang tersohor dengan nama Man Jasad menuturkan, mulai tahun 2005 ia mulai mencoba mengadopsi tradisi sunda ke dalam musik death metal yang diusung oleh band-nya Jasad saat itu.

Kala itu, Man mencoba membuat beberapa lagu dengan menggunakan lirik bahasa sunda, seperti lagu ‘Getih Jang Getih’ dan ‘Kujang Rompang’.

Menurut Man, jaman dulu anak metal segala sesuatunya cenderung kebarat-baratan. Padahal kita memiliki kebudayaan sendiri yang sangat luhur dan masih relevan jika diterapkan pada masa kini.

"Jadilah seperti sekarang, musiknya boleh metal, tapi jiwanya tetap Indonesia, tetap Sunda," kata Man kepada detikbandung.

Salah satu contohnya seperti yang diperbuat oleh Man, ia menciptakan lagu yang bertajuk 'Kujang Rompang'. Lagu tersebut menceritakan tentang filosofi kesundaan. "Hal kecil yang saya bisa lakukan, saya juga mencoba menjadi metalhead yang berperilaku sunda, someah, teu papaseaan, teu goreng ka batur," terang Man.

Prilaku orang sunda yang nyaah ka alam juga mencoba Man terapkan dalam komunitas para metalhead. Salah satunya pada gelaran Deatfhfest 2008, yang profitnya dibelikan pohon. "Jadi tak hanya sekadar even saja. Orang sunda kan dekat dengan alam. Hablum minannas, dan hablum minal alam," ucap Man.

Respon terhadap Sunda Metal yang kini sudah menjadi identitas diri para metalhead di Jawa Barat, khususnya di Bandung disambut baik para metalhead di kota-kota lain.

"Selain penggunaan iket, sekarang kalau saya manggung di kota-kota lain di luar Jawa Barat membawakan lagu Jasad yang bahasa sunda, mereka pada mau belajar biar tahu artinya," jelas Man.

Selain Man, banyak metalhead di Bandung yang saat ini sudah mengkolaborasikan seni sunda dengan musik metal, seperti musik metal, seperti band Forgotten yang memasukan unsur Tarawangsa.

"Malah ada satu band yang musiknya geber abis, tapi liriknya semuanya bahasa sunda," terangnya.

Tanpa ingin disebut merubah imej anak metal. Man berharap, meskipun terjun di musik metal, punk, pop, atau apapaun kesukaan musiknya, jiwanya tetap Indonesia.

Jumat, 19 April 2013

Perkembangan Musik Cadas Tanah Pertiwi mulai temui Kejayaan


Embrio kelahiran scene musik rock underground di Indonesia sulit dilepaskan dari evolusi rocker-rocker pionir era 70-an sebagai pendahulunya. Sebut saja misalnya God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy (Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), AKA/SAS (Surabaya), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari Banten. Mereka inilah generasi pertama rocker Indonesia. Istilah underground sendiri sebenarnya sudah digunakan Majalah Aktuil sejak awal era 70- an. Istilah tersebut digunakan majalah musik dan gaya hidup pionir asal Bandung itu untuk mengidentifikasi band-band yang memainkan musik keras dengan gaya yang lebih `liar’ dan `ekstrem’ untuk ukuran jamannya. Padahal kalau mau jujur, lagu-lagu yang dimainkan band- band tersebut di atas bukanlah lagu karya mereka sendiri, melainkan milik band-band luar negeri macam Deep Purple, Jefferson Airplane, Black Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones, Rush hingga ELP. Tradisi yang kontraproduktif ini kemudian mencatat sejarah
namanya sempat mengharum di pentas nasional. Sebut saja misalnya El Pamas, Grass Rock (Malang), Power Metal (Surabaya), Adi Metal Rock (Solo), Val Halla (Medan) hingga Roxx (Jakarta). Selain itu Log jugalah yang membidani lahirnya label rekaman rock yang pertama di Indonesia, Logiss Records. Produk pertama label ini adalah album
ketiga God Bless, “Semut Hitam” yang dirilis tahun 1988 dan ludes hingga 400.000 kaset di seluruh Indonesia.
Menjelang akhir era 80-an, di seluruh dunia waktu itu anak-anak muda sedang mengalami demam musik thrash metal. Sebuah perkembangan style musik metal yang lebih ekstrem lagi dibandingkan heavy metal. Band- band yang menjadi gods-nya antara lain Slayer, Metallica, Exodus, Megadeth, Kreator, Sodom, Anthrax hingga Sepultura. Kebanyakan kota- kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Malang hingga Bali, scene undergroundnya pertama kali lahir dari genre musik ekstrem tersebut. Di Jakarta sendiri komunitas metal pertama kali tampil di depan publik pada awal tahun 1988. Komunitas anak metal (saat itu istilah underground belum populer) ini biasa hang out di Pid Pub, sebuah pub kecil di kawasan pertokoan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Menurut Krisna J. Sadrach, frontman Sucker Head, selain nongkrong, anak-anak yang hang out di sana oleh Tante Esther, owner Pid Pub, diberi kesempatan untuk bisa manggung di sana. Setiap malam minggu biasanya selalu ada live show dari band-band baru di Pid Pub dan kebanyakan band-band tersebut mengusung musik rock atau metal.
Band-band yang sering hang out di scene Pid Pub ini antara lain Roxx (Metallica & Anthrax), Sucker Head (Kreator & Sepultura), Commotion Of Resources (Exodus), Painfull Death, Rotor (Kreator), Razzle (GN’R), Parau (DRI & MOD), Jenazah, Mortus hingga Alien Scream (Obituary). Beberapa band diatas pada perjalanan berikutnya banyak yang membelah diri menjadi band-band baru. Commotion Of Resources adalah cikal bakal band gothic metal Getah, sedangkan Parau adalah embrio band death metal lawas Alien Scream. Selain itu Oddie, vokalis Painfull Death selanjutnya membentuk grup industrial Sic Mynded di Amerika Serikat bersama Rudi Soedjarwo (sutradara Ada Apa Dengan Cinta?). Rotor sendiri dibentuk pada tahun 1992 setelah cabutnya gitaris Sucker Head, Irvan Sembiring yang merasa konsep musik Sucker Head saat itu masih kurang ekstrem baginya.
Semangat yang dibawa para pendahulu ini memang masih berkutat pola tradisi `sekolah lama’, bangga menjadi band cover version! Di antara mereka semua, hanya Roxx yang beruntung bisa rekaman untuk single pertama mereka, “Rock Bergema”. Ini terjadi karena mereka adalah salah satu finalis Festival Rock Se-Indonesia ke-V. Mendapat kontrak rekaman dari label adalah obsesi yang terlalu muluk saat itu. Jangankan rekaman, demo rekaman bisa diputar di radio saja mereka sudah bahagia. Saat itu stasiun radio yang rutin mengudarakan musik- musik rock/metal adalah Radio Bahama, Radio Metro Jaya dan Radio SK. Dari beberapa radio tersebut mungkin yang paling legendaris adalah Radio Mustang. Mereka punya program bernama Rock N’ Rhythm yang
mengudara setiap Rabu malam dari pukul 19.00 – 21.00 WIB. Stasiun radio ini bahkan sempat disatroni langsung oleh dedengkot thrash metal Brasil, Sepultura, kala mereka datang ke Jakarta bulan Juni 1992. Selain medium radio, media massa yang kerap mengulas berita- berita rock/metal pada waktu itu hanya Majalah HAI, Tabloid Citra Musik dan Majalah Vista.
Selain hang out di Pid Pub tiap akhir pekan, anak-anak metal ini sehari-harinya nongkrong di pelataran Apotik Retna yang terletak di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Beberapa selebritis muda yang dulu sempat nongkrong bareng (groupies?) anak-anak metal ini antara lain Ayu Azhari, Cornelia Agatha, Sophia Latjuba, Karina Suwandi hingga Krisdayanti. Aktris Ayu Azhari sendiri bahkan sempat dipersunting sebagai istri oleh (alm) Jodhie Gondokusumo yang merupakan vokalis Getah dan juga
mantan vokalis Rotor.
Tak seberapa jauh dari Apotik Retna, lokasi lain yang sering dijadikan lokasi rehearsal adalah Studio One Feel yang merupakan studio latihan paling legendaris dan bisa dibilang hampir semua band- band rock/metal lawas ibukota pernah rutin berlatih di sini. Selain Pid Pub, venue alternatif tempat band-band rock underground
manggung pada masa itu adalah Black Hole dan restoran Manari Open Air di Museum Satria Mandala (cikal bakal Poster Café). Diluar itu, pentas seni MA dan acara musik kampus sering kali pula di “infiltrasi” oleh band-band metal tersebut. Beberapa pensi yang historikal di antaranya adalah Pamsos (SMA 6 Bulungan), PL Fair (SMA
Pangudi Luhur), Kresikars (SMA 82), acara musik kampus Universitas
Nasional (Pejaten), Universitas Gunadarma, Universitas Indonesia (Depok), Unika Atmajaya Jakarta, Institut Teknologi Indonesia (Serpong) hingga Universitas Jayabaya (Pulomas).
Berkonsernya dua supergrup metal internasional di Indonesia, Sepultura (1992) dan Metallica (1993) memberi kontribusi cukup besar bagi perkembangan band-band metal sejenis di Indonesia. Tak berapa lama setelah Sepultura sukses “membakar” Jakarta dan Surabaya, band speed metal Roxx merilis album debut self-titled mereka di bawah
label Blackboard. Album kaset ini kelak menjadi salah satu album speed metal klasik Indonesia era 90-an. Hal yang sama dialami pula oleh Rotor. Sukses membuka konser fenomenal Metallica selama dua hari berturut-turut di Stadion Lebak Bulus, Rotor lantas merilis album thrash metal major labelnya yang pertama di Indonesia, Behind The 8th Ball (AIRO). Bermodalkan rekomendasi dari manajer tur Metallica dan honor 30 juta rupiah hasil dua kali membuka konser Metallica, para personel Rotor (minus drummer Bakkar Bufthaim) lantas eksodus ke negeri Paman Sam untuk mengadu nasib. Sucker Head sendiri tercatat paling telat dalam merilis album debut dibanding band
seangkatan mereka lainnya. Setelah dikontrak major label lokal, Aquarius
Musikindo, baru di awal 1995 mereka merilis album `The Head Sucker’. Hingga kini Sucker Head tercatat sudah merilis empat buah album.
Dari sedemikian panjangnya perjalanan rock underground di tanah air, mungkin baru di paruh pertama dekade 90-anlah mulai banyak terbentuk scene-scene underground dalam arti sebenarnya di Indonesia. Di Jakarta sendiri konsolidasi scene metal secara masif berpusat di Blok M sekitar awal 1995. Kala itu sebagian anak-anak metal sering
terlihat nongkrong di lantai 6 game center Blok M Plaza dan di sebuah resto waralaba terkenal di sana. Aktifitas mereka selain hang out adalah bertukar informasi tentang band-band lokal daninternasional, barter CD, jual-beli t-shirt metal hingga merencanakan pengorganisiran konser. Sebagian lagi yang lainnya memilih hang out di basement Blok Mall yang kebetulan letaknya berada di bawah tanah.
Pada era ini hype musik metal yang masif digandrungi adalah subgenre yang makin ekstrem yaitu death metal, brutal death metal, grindcore, black metal hingga gothic/doom metal. Beberapa band yang makin mengkilap namanya di era ini adalah Grausig, Trauma, Aaarghhh, Tengkorak, Delirium Tremens, Corporation of Bleeding, Adaptor, Betrayer, Sadistis, Godzilla dan sebagainya. Band grindcore Tengkorak pada tahun 1996 malah tercatat sebagai band yang pertama kali merilis mini album secara independen di Jakarta dengan judul `It’s A Proud To Vomit Him’. Album ini direkam secara profesional di Studio Triple M, Jakarta dengan sound engineer Harry Widodo (sebelumnya pernah menangani album Roxx, Rotor, Koil, Puppen dan PAS).
Tahun 1996 juga sempat mencatat kelahiran fanzine musik underground pertama di Jakarta, Brainwashed zine. Edisi pertama Brainwashed terbit 24 halaman dengan menampilkan cover Grausig dan profil band Trauma, Betrayer serta Delirium Tremens. Di ketik di komputer berbasis system operasi Windows 3.1 dan lay-out cut n’ paste tradisional, Brainwashed kemudian diperbanyak 100 eksemplar dengan mesin foto kopi milik saudara penulis sendiri. Di edisi-edisi berikutnya Brainwashed mengulas pula band-band hardcore, punk bahkan ska. Setelah terbit fotokopian hingga empat edisi, di tahun 1997 Brainwashed sempat dicetak ala majalah profesional dengan cover
penuh warna. Hingga tahun 1999 Brainwashed hanya kuat terbit hingga tujuh edisi, sebelum akhirnya di tahun 2000 penulis menggagas format e-zine di internet  www.bisik.com). Media-media serupa yang selanjutnya lebih konsisten terbit di Jakarta antara lain Morbid Noise zine, Gerilya zine, Rottrevore zine, Cosmic zine dan
sebagainya.
29 September 1996 menandakan dimulainya sebuah era baru bagi perkembangan rock underground di Jakarta. Tepat pada hari itulah digelar acara musik indie untuk pertama kalinya di Poster Café. Acara bernama “Underground Session” ini digelar tiap dua minggu sekali pada malam hari kerja. Café legendaris yang dimiliki rocker gaek
Ahmad Albar ini banyak melahirkan dan membesarkan scene musik indie baru yang memainkan genre musik berbeda dan lebih variatif. Lahirnya scene Brit/indie pop, ledakan musik ska yang fenomenal era 1997 – 2000 sampai tawuran massal bersejarah antara sebagian kecil massa Jakarta dengan Bandung terjadi juga di tempat ini. Getah,
Brain The Machine, Stepforward, Dead Pits, Bloody Gore, Straight Answer, Frontside, RU Sucks, Fudge, Jun Fan Gung Foo, Be Quiet, Bandempo, Kindergarten, RGB, Burning Inside, Sixtols, Looserz, HIV, Planet Bumi, Rumahsakit, Fable, Jepit Rambut, Naif, Toilet Sounds, Agus Sasongko & FSOP adalah sebagian kecil band-band yang `kenyang’ manggung di sana.
10 Maret 1999 adalah hari kematian scene Poster Café untuk selama- lamanya. Pada hari itu untuk terakhir kalinya diadakan acara musik di sana (Subnormal Revolution) yang berujung kerusuhan besar antara massa punk dengan warga sekitar hingga berdampak hancurnya beberapa mobil dan unjuk giginya aparat kepolisian dalam membubarkan massa. Bubarnya Poster Café diluar dugaan malah banyak melahirkan venue- venue alternatif bagi masing-masing scene musik indie. Café Kupu- Kupu di Bulungan sering digunakan scene musik ska, Pondok Indah Waterpark, GM 2000 café dan Café Gueni di Cikini untuk scene Brit/indie pop, Parkit De Javu Club di Menteng untuk gigs punk/hardcore dan juga indie pop. Belakangan BB’s Bar yang super- sempit di Menteng sering disewa untuk acara garage rock-new wave-mellow punk juga rock yang kini sedang hot, seperti The Upstairs, Seringai, The Brandals, C’mon Lennon, Killed By Butterfly, Sajama Cut,
Devotion dan banyak lagi. Di antara semuanya, mungkin yang paling `netral’ dan digunakan lintas-scene cuma Nirvana Café yangterletak di basement Hotel Maharadja, Jakarta Selatan. Di tempat ini pulalah, 13 Januari 2002 silam, Puppen `menghabisi riwayat’ mereka dalam sebuah konser bersejarah yang berjudul, “Puppen : Last Show Ever”, sebuah rentetan show akhir band Bandung ini sebelum membubarkan diri.
Scene Punk/Hardcore/Brit/Indie Pop
Invasi musik grunge/alternative dan dirilisnya album Kiss This dari Sex Pistols pada tahun 1992 ternyata cukup menjadi trigger yang ampuh dalam melahirkan band-band baru yang tidak memainkan musik metal. Misalnya saja band Pestol Aer dari komunitas Young Offender yang diawal kiprahnya sering meng-cover lagu-lagu Sex Pistols lengkap dengan dress-up punk dan haircut mohawknya. Uniknya, pada perjalanan selanjutnya, sekitar tahun 1994, Pestol Aer kemudian mengubah arah musik mereka menjadi band yang mengusung genre british/indie pop ala The Stone Roses. Konon, peristiwa historik ini
kemudian menjadi momen yang cukup signifikan bagi perkembangan scene british/indie pop di Jakarta. Sebelum bubar, di pertengahan 1997 mereka sempat merilis album debut bertitel `…Jang Doeloe’. Generasi awal dari scene brit pop ini antara lain adalah band Rumahsakit, Wondergel, Planet Bumi, Orange, Jellyfish, Jepit Rambut, Room-V,
Parklife hingga Death Goes To The Disco.
Pestol Aer memang bukan band punk pertama, ibukota ini di tahun 1989 sempat melahirkan band punk/hardcore pionir Antiseptic yang kerap memainkan nomor-nomor milik Black Flag, The Misfits, DRI sampai Sex Pistols. Lukman (Waiting Room/The Superglad) dan Robin (Sucker Head/Noxa) adalah alumnus band ini juga. Selain sering manggung di Jakarta, Antiseptic juga sempat manggung di rockfest legendaris Bandung, Hullabaloo II pada akhir 1994. Album debut Antiseptic sendiri yang bertitel `Finally’ baru rilis delapan tahun kemudian (1997) secara D.I.Y. Ada juga band alternatif seperti Ocean yang memainkan musik ala Jane’s Addiction dan lainnya, sayangnya mereka tidak sempat merilis rekaman.
Selain itu, di awal 1990, Jakarta juga mencetak band punk rock The Idiots yang awalnya sering manggung meng-cover lagu-lagu The Exploited. Nggak jauh berbeda dengan Antiseptic, baru sembilan tahun kemudian The Idiots merilis album debut mereka yang bertitel `Living Comfort In Anarchy’ via label indie Movement Records. Komunitas-
komunitas punk/hardcore juga menjamur di Jakarta pada era 90-an tersebut. Selain komunitas Young Offender tadi, ada pula komunitas South Sex (SS) di kawasan Radio Dalam, Subnormal di Kelapa Gading, Semi-People di Duren Sawit, Brotherhood di Slipi, Locos di Blok M hingga SID Gank di Rawamangun.
Sementara rilisan klasik dari scene punk/hardcore Jakarta adalah album kompilasi Walk Together, Rock Together (Locos Enterprise) yang rilis awal 1997 dan memuat singel antara lain dari band Youth Against Fascism, Anti Septic, Straight Answer, Dirty Edge dan sebagainya. Album kompilasi punk/hardcore klasik lainnya adalah Still One, Still Proud (Movement Records) yang berisikan singel dari Sexy Pig, The Idiots, Cryptical Death hingga Out Of Control.
kini musik metal indonesia mulai menemukan titik puncak kejayaannya. \m/