Berpakaian hitam bergambar gambar tengkorak, suara garang, rambut
gondrong, musik cadas identik dengan musik metal. Tapi bagi yang awam
dengan musik metal ini, sesekali sempatkan melihat pertunjukan musik
metal. Ada suasana baru yang berbeda dengan kondisi pementasan musik
metal jaman dulu.
Pertunjukan musik metal belakangan ini sarat
akan budaya dan tradisi Sunda. Mungkin sekitar sepuluh tahun lalu, jika
datang ke pertunjukan musik metal dengan memakai pakaian tradisional
sunda seperti baju pangsi dan iket akan terlihat aneh, atau mungkin jadi
bahan ejekan. Tapi saat ini justru banyak yang memakai gaya tersebut
sebagai identitas diri para metalhed.
Musik metal yang cadas
dengan tempo cepat dan suara vokalisnya yang mengeram dengan serak, kini
ditambah dengan bumbu-bumbu musik sunda seperti tarawangsa atau
karinding.
Vokalis Jasad, Mohamad Rohman, atau yang tersohor
dengan nama Man Jasad menuturkan, mulai tahun 2005 ia mulai mencoba
mengadopsi tradisi sunda ke dalam musik death metal yang diusung oleh
band-nya Jasad saat itu.
Kala itu, Man mencoba membuat beberapa
lagu dengan menggunakan lirik bahasa sunda, seperti lagu ‘Getih Jang
Getih’ dan ‘Kujang Rompang’.
Menurut Man, jaman dulu anak metal
segala sesuatunya cenderung kebarat-baratan. Padahal kita memiliki
kebudayaan sendiri yang sangat luhur dan masih relevan jika diterapkan
pada masa kini.
"Jadilah seperti sekarang, musiknya boleh metal, tapi jiwanya tetap Indonesia, tetap Sunda," kata Man kepada detikbandung.
Salah
satu contohnya seperti yang diperbuat oleh Man, ia menciptakan lagu
yang bertajuk 'Kujang Rompang'. Lagu tersebut menceritakan tentang
filosofi kesundaan. "Hal kecil yang saya bisa lakukan, saya juga mencoba
menjadi metalhead yang berperilaku sunda, someah, teu papaseaan, teu
goreng ka batur," terang Man.
Prilaku orang sunda yang nyaah ka
alam juga mencoba Man terapkan dalam komunitas para metalhead. Salah
satunya pada gelaran Deatfhfest 2008, yang profitnya dibelikan pohon.
"Jadi tak hanya sekadar even saja. Orang sunda kan dekat dengan alam.
Hablum minannas, dan hablum minal alam," ucap Man.
Respon
terhadap Sunda Metal yang kini sudah menjadi identitas diri para
metalhead di Jawa Barat, khususnya di Bandung disambut baik para
metalhead di kota-kota lain.
"Selain penggunaan iket, sekarang
kalau saya manggung di kota-kota lain di luar Jawa Barat membawakan lagu
Jasad yang bahasa sunda, mereka pada mau belajar biar tahu artinya,"
jelas Man.
Selain Man, banyak metalhead di Bandung yang saat ini
sudah mengkolaborasikan seni sunda dengan musik metal, seperti musik
metal, seperti band Forgotten yang memasukan unsur Tarawangsa.
"Malah ada satu band yang musiknya geber abis, tapi liriknya semuanya bahasa sunda," terangnya.
Tanpa
ingin disebut merubah imej anak metal. Man berharap, meskipun terjun di
musik metal, punk, pop, atau apapaun kesukaan musiknya, jiwanya tetap
Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar