Tulisan ini hanya gurauan yang berisi tumpahan isi otak yang
tidak penting tapi saya ingin menulisnya .
Kebetulan saya adalah manusia yang
sejak bayi hidup di schene serba kekurangan. Selalu ada saja yang saya keluhkan
dalam hidup ini, tapi mungkin itu bersifat umum dan manusiawi karena semua
manusia tak akan pernah merasa cukup. Selama oksigen masih berlalu lalang di
tenggorokannya.
Tapi soal hidup, saya tidak pernah ambil pusing. Karena yang
maha kuasa tak pernah memberikan keburukan pada mahluk-mahluk ciptaanNya. Meski
terkadng saya menggerutu dengan suara
rendah dalam hati tentunya. Sekarang umur saya sudah kepala dua, sebuah notasi nada
umur yang kata orang-orang merupakan fase menuju kedewasaan. Tapi saya ngga mau
pusing juga, biarkanlah semua berjalan senatural mungkin.
Langsung keinti aja, katakanlah saya ini anak kemarin sore
yang mengenal music cadas/metal/underground. Karena saya mengenal music ini
pada saat duduk dibangku SMA kelas 1, dan saya rasakan ada chemistry yang
bersaling-silang dengan latar kehidupan saya (kekurangan). Saya seperti
menemukan media baru untuk menggerutu secara lantang tentang semua gejolak yang
ada di otak dan jiwa saya. Sebuah ketenangan tercipta kala mendengar teriakkan
yang memekik, riff gitar yang meraung liar, dan tensi detakan dari double pedal
mereka para musisi underground. Dari sinilah saya berambisi menjadi seperti mereka,
ambisi yang sampai kini dan mungkin sampai kapan pun akan tetap berkobar.
METAL, itulah sebuah genre yang kata orang-orang erat dengan
pemberontakan, rusuh, tak bermoral , dan tak bertuhan. Tapi “what the hell” lah
,, saya tidak ambil pusing lagi. Karena itu semua kembali ke tiap pemikiran
sebuah individu. lagi pula saya hanya menumpahkan isi otak dan semua gerutuan ,
itu saja. Bagi saya metal bukan hanya sebuah genre, tapi sebuah paham kehidupan
yang mendidik manusia untuk tidak selalu mengeluh, kebebasan berekspresi, dan
menjadi pekerja keras dalam menjalani hidup (tidak berleha-leha dan berpikiran
keras) . juga mengajarkan tentang kebersamaan , sifat welcome pada semua
karakter, dan tentang keteguhan pada sebuah gagasan/pendirian .
Menjadi pengamat, penikmat, dan pelaku. Itulah impian saya
sejak saya berkenalan dengan genre ini. Media intrumen yang saya geluti sejak
itu adalah kayu sexy berdawai 6. GITAR, itulah senjata yang saya pakai untuk
meluapkan semua emosi, feeling, dan hiruk-pikuk hasil terjemahan mata dan
telinga saya . Saya selalu bersyukur , yang maha kuasa memberikan otak kepada
mahluk yang bernama manusia. Dan kebetulan otak yang saya genggam adalah otak
yang lebih dari yang lain. Alhmdulillah ,,, masa-masa Sekolah Dasar hingga Menengah
Atas , beberapa piagam sanjungan/apresiasi dalam hal akademis berhasil saya
kumpulkan dalam sebuah map usang yang hanya bisa menghibur saya tatkala saya
melihat dan membayangkan masa itu.
Indah sekali, yah benar-benar indah. Tapi potensi itu kandas
dipertengahan bangku Menengah Atas ketika sebuah system menghancurkannya. Sebuah
System yang mempertuhankan Lembaran kertas bertuliskan angka yang bisa mengukur
keabsahan dan keabsurdan. Lembaran yang bisa membuat yang salah jadi benar, membuat
yang akhir menjadi awal .Lembaran yang dicari-cari manusia untuk mempertahankan
hidupnya.
Anjing !!.. kenapa benda itu harus ada didunia ini. Sungguh Benda yang
membutakan mata luar dan dalam manusia . mungkin itulah awal buyarnya semangat
saya, mengendurkan serangan dengan gerutuan rendah namun kuat tentang makna
ke-abnormalan sebuah system. Tapi inilah hidup , selalu ada skenario indah
dalam tiap novel yang dituliskan oleh yang maha kuasa. Saya hanya bisa
berakting dan mendalami karakter dalam semua sesi dan adegan yang saya perankan
dengan penuh rasa syukur dan semangat .
Meskipun sekarang, saya tidak duduk di bangku chitose dengan
seorang pahlawan didepan papan tulis. Tapi saya tetap bangga dan bersyukur ,
sekarang saya masih bisa menyambung hidup dengan mendedikasikan diri disebuah
tempat bimbingan belajar, meskipun jadi organ terbawah . dan yang penting saya
masih bisa menjajal studio rentalan untuk sarana berekspresi dan bereksplorasi.
Tapi suatu hari saya yakin, dan saya berambisi untuk bisa mencicipi bangku
Chitose dihiasi beberapa SKS yang menantang. Yeah… mungkin itulah ambisi lain
saya selain menjadi pengamat, penikmat, dan pelaku di schene music yang saya
usung sekarang.
Menjadi gitaris sekaligus vokalis band metal, itu yang saya
coba dan saya seriusi sekarang. Terinspirasi oleh musisi-musisi metal seperti
Matthew Kiichi Heafy (TRIVIUM) , Chuck Schuldiner ( DEATH), John Gallagher
(DYING FETUS), Sofyan Hadi (DEATH VOMIT), dan Adi Wibowo (DEAD VERTICAL) .
mereka bisa mengerjakan dua aktivitas bersamaan, memainkan instumen music (gitar)
dan benyanyi dengan suara parau. Dan kini saya sedang mencoba merealisasi project
brutal bersama dua teman saya dengan nama band OBRIGADO. Dengan line-up Deniswara
(Drum) , Agus groin (Bass+Vocal), dan Chandra/Saya
(Gitar+Vokal). Sang drummer merupakan rekan kerja sekaligus sahabat saya yang
selalu mensupport saya, memberikan saya kebebasan berekspresi dengan dentuman
double pedalnya, dan Agus sang bassis , saya mengenal dia lewat social media .
sewaktu saya hijrah dari kampung kelahiran saya Garut-Jawa Barat ke tempat
sekarang Kuningan-Jawa Barat.
Kami bertiga, kami OBRIGADO , tiga karakter manusia dengan
kobaran jiwa dan tujuan yang searah . Death Metal adalah genre kami , “this is
our music, and we will die for this” . saya tidak begitu mengharapkan meteri
dari music , saya hanya ingin mencurahkan tumpahan isi otak saya, apa yang saya
lihat dan saya dengar, juga aspirasi saya terhadap dunia lewat distorsi gahar,
lirik kasar dan suara parau.
Terima kasih telah bersedia membaca tulisan tidak penting ini.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar