Minggu, 01 Desember 2013

Tumpahan isi Otak seorang Gitaris sekaligus Vokalis band Death Metal



Tulisan ini hanya gurauan yang berisi tumpahan isi otak yang tidak penting tapi saya ingin menulisnya . 

    Kebetulan saya adalah manusia yang sejak bayi hidup di schene serba kekurangan. Selalu ada saja yang saya keluhkan dalam hidup ini, tapi mungkin itu bersifat umum dan manusiawi karena semua manusia tak akan pernah merasa cukup. Selama oksigen masih berlalu lalang di tenggorokannya.

   Tapi soal hidup, saya tidak pernah ambil pusing. Karena yang maha kuasa tak pernah memberikan keburukan pada mahluk-mahluk ciptaanNya. Meski terkadng saya  menggerutu dengan suara rendah dalam hati tentunya. Sekarang umur saya sudah kepala dua, sebuah notasi nada umur yang kata orang-orang merupakan fase menuju kedewasaan. Tapi saya ngga mau pusing juga, biarkanlah semua berjalan senatural mungkin.

   Langsung keinti aja, katakanlah saya ini anak kemarin sore yang mengenal music cadas/metal/underground. Karena saya mengenal music ini pada saat duduk dibangku SMA kelas 1, dan saya rasakan ada chemistry yang bersaling-silang dengan latar kehidupan saya (kekurangan). Saya seperti menemukan media baru untuk menggerutu secara lantang tentang semua gejolak yang ada di otak dan jiwa saya. Sebuah ketenangan tercipta kala mendengar teriakkan yang memekik, riff gitar yang meraung liar, dan tensi detakan dari double pedal mereka para musisi underground. Dari sinilah saya berambisi menjadi seperti mereka, ambisi yang sampai kini dan mungkin sampai kapan pun akan tetap berkobar.


METAL, itulah sebuah genre yang kata orang-orang erat dengan pemberontakan, rusuh, tak bermoral , dan tak bertuhan. Tapi “what the hell” lah ,, saya tidak ambil pusing lagi. Karena itu semua kembali ke tiap pemikiran sebuah individu. lagi pula saya hanya menumpahkan isi otak dan semua gerutuan , itu saja. Bagi saya metal bukan hanya sebuah genre, tapi sebuah paham kehidupan yang mendidik manusia untuk tidak selalu mengeluh, kebebasan berekspresi, dan menjadi pekerja keras dalam menjalani hidup (tidak berleha-leha dan berpikiran keras) . juga mengajarkan tentang kebersamaan , sifat welcome pada semua karakter, dan tentang keteguhan pada sebuah gagasan/pendirian .


Menjadi pengamat, penikmat, dan pelaku. Itulah impian saya sejak saya berkenalan dengan genre ini. Media intrumen yang saya geluti sejak itu adalah kayu sexy berdawai 6. GITAR, itulah senjata yang saya pakai untuk meluapkan semua emosi, feeling, dan hiruk-pikuk hasil terjemahan mata dan telinga saya . Saya selalu bersyukur , yang maha kuasa memberikan otak kepada mahluk yang bernama manusia. Dan kebetulan otak yang saya genggam adalah otak yang lebih dari yang lain. Alhmdulillah ,,, masa-masa Sekolah Dasar hingga Menengah Atas , beberapa piagam sanjungan/apresiasi dalam hal akademis berhasil saya kumpulkan dalam sebuah map usang yang hanya bisa menghibur saya tatkala saya melihat dan membayangkan masa itu.



      Indah sekali, yah benar-benar indah. Tapi potensi itu kandas dipertengahan bangku Menengah Atas ketika sebuah system menghancurkannya. Sebuah System yang mempertuhankan Lembaran kertas bertuliskan angka yang bisa mengukur keabsahan dan keabsurdan. Lembaran yang bisa membuat yang salah jadi benar, membuat yang akhir menjadi awal .Lembaran yang dicari-cari manusia untuk mempertahankan hidupnya.
    Anjing !!.. kenapa benda itu harus ada didunia ini. Sungguh Benda yang membutakan mata luar dan dalam manusia . mungkin itulah awal buyarnya semangat saya, mengendurkan serangan dengan gerutuan rendah namun kuat tentang makna ke-abnormalan sebuah system. Tapi inilah hidup , selalu ada skenario indah dalam tiap novel yang dituliskan oleh yang maha kuasa. Saya hanya bisa berakting dan mendalami karakter dalam semua sesi dan adegan yang saya perankan dengan penuh rasa syukur dan semangat .

    Meskipun sekarang, saya tidak duduk di bangku chitose dengan seorang pahlawan didepan papan tulis. Tapi saya tetap bangga dan bersyukur , sekarang saya masih bisa menyambung hidup dengan mendedikasikan diri disebuah tempat bimbingan belajar, meskipun jadi organ terbawah . dan yang penting saya masih bisa menjajal studio rentalan untuk sarana berekspresi dan bereksplorasi. Tapi suatu hari saya yakin, dan saya berambisi untuk bisa mencicipi bangku Chitose dihiasi beberapa SKS yang menantang. Yeah… mungkin itulah ambisi lain saya selain menjadi pengamat, penikmat, dan pelaku di schene music yang saya usung sekarang.

    Menjadi gitaris sekaligus vokalis band metal, itu yang saya coba dan saya seriusi sekarang. Terinspirasi oleh musisi-musisi metal seperti Matthew Kiichi Heafy (TRIVIUM) , Chuck Schuldiner ( DEATH), John Gallagher (DYING FETUS), Sofyan Hadi (DEATH VOMIT), dan Adi Wibowo (DEAD VERTICAL) . mereka bisa mengerjakan dua aktivitas bersamaan, memainkan instumen music (gitar) dan benyanyi dengan suara parau. Dan kini saya sedang mencoba merealisasi project brutal bersama dua teman saya dengan nama band OBRIGADO. Dengan line-up Deniswara (Drum) , Agus groin (Bass+Vocal), dan  Chandra/Saya (Gitar+Vokal). Sang drummer merupakan rekan kerja sekaligus sahabat saya yang selalu mensupport saya, memberikan saya kebebasan berekspresi dengan dentuman double pedalnya, dan Agus sang bassis , saya mengenal dia lewat social media . sewaktu saya hijrah dari kampung kelahiran saya Garut-Jawa Barat ke tempat sekarang Kuningan-Jawa Barat.

    Kami bertiga, kami OBRIGADO , tiga karakter manusia dengan kobaran jiwa dan tujuan yang searah . Death Metal adalah genre kami , “this is our music, and we will die for this” . saya tidak begitu mengharapkan meteri dari music , saya hanya ingin mencurahkan tumpahan isi otak saya, apa yang saya lihat dan saya dengar, juga aspirasi saya terhadap dunia lewat distorsi gahar, lirik kasar  dan suara parau.





Terima kasih telah bersedia membaca tulisan tidak penting ini. 

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar